2/08/2009

Kabar Baik KA

Kabar Baik ! | 01 December 2008

Kenapa kabar baik tidak menarik untuk dibicarakan?
Karena pikiran kita dipenuhi syak praduga negatif. Dengar saja di setiap arisan, rapat, selamatan, undangan nikah maupun kumpul-kumpul, termasuk mengantar jenazah masuk kubur dan pertemuan di lingkungan kereta api.

Apa kabar Pak Anu? Oh dia terkena stroke. Yah, kena ulahnya sendiri. Habis rakus sih, kata yang ditanya dengan perasaan nyinyir. Pak Anu yang dimaksud adalah mantan Kepala Seksi di mana sang penjawab pernah jadi anak buahnya. Objek penderita (yang digosipin) bisa meluas. Dari petugas loket, satpam, masinis, kondektur, sarpen, kasi sampai ke tingkat direksi. Kadang juga merambah ke instansi. Wah, Pak Kepala itu payah. Tagihan saya tak bisa keluar kalau kita tak setuju dipotong 30%!

Bagaimana kabar kereta komuter buatan dalam negeri yang baru beroperasi kemarin? Ah, itu sih akal-akalan untuk menutupi proyek Holec triliunan rupiah yang dipermak agar orang lupa. Jawabannya senantiasa miring, selalu menghembuskan kabar buruk dan negatif bagi orang lain.

Jangan heran kalau orang yang tadinya tidak tahu, terkena hawa negatif, lalu berbalik ikut mencerca. Kabar buruk gampang menyebar karena kita senang orang lain menderita. Sembilan puluh lima persen tayangan infotainment adalah kabar tak menyenangkan. Perceraian, selingkuh, saling menjelekkan, dan saling menuntut. Sembilan tujuh persen berita TV adalah hal-hal mengerikan: pembunuhan, mutilasi, kecelakaan, kebakaran, perampokan, demo brutal, perkelahian dan korupsi. Bahkan debat pun harus dipertontonkan dengan adu urat dan saling memojokkan.

Di kereta api, kabar buruk menjalar di sepanjang rel kereta. Merebak di stasiun, menjalar di perkantoran resmi. Masih saja ada orang kurang waras naik di atas atap KA Jabodetabek. Pria-pria iseng masih merajalela di kesesakan penumpang dengan bumbu seks fantasi di tengah aroma wewangian minyak kayu putih dan balsem. Penumpang kelas ekonomi masih menahan hawa tidak sedap yang berembus dari toilet yang bau di tengah riuhnya para penjual makanan di atas KA.

Bagaimana dengan KA eksekutif? Dengan segala hormat, biar sudah bayar mahal, masih belum terpuaskan oleh berbagai layanan di atas KA seperti soal makan-minum, kebersihan, hiburan TV, sarana kereta dari AC yang sering mati sampai kursi yang tak nyaman buat duduk. Bukankah semua ini kabar tidak baik? Benar, sekedar catatan akhir tahun bahwa tidak banyak perubahan yang dilakukan orang kereta api atas nama kenyamanan, keamanan penumpang kereta api komersil tersebut. Satu hal lain adalah PT KA yang diproyeksikan berpotensi rugi Rp 22 miliar tahun ini.

Kalau begitu, dimana kabar baiknya?

Pak Dirjen Perkeretaapian, Wendi Aritenang makin rajin membuka jalur baru rel kereta api di berbagai daerah. Kereta-kereta baru -baik ekonomi maupun eksekutif- mulai beroperasi di double track yang makin banyak. Para Daop berlomba menghias stasiun masing-masing. Stasiun Cirebon dan Solo Balapan plus Ruang Tunggu Eksekutif Bale Manganti terpilih menjadi fasilitas umum teladan. Balai Yasa unjuk gigi dengan membuat gerbong eksekutif lux di KA Sembrani. Loker tempat barang di atas penumpang didisain tertutup seperti pesawat. Jangan lupa kabar baik ini : INKA, pabrik sepur di Madiun memperoleh kontrak mencapai Rp 1 triliun

Hajatan lebaran juga membawa kabar baik. Gerbong kereta pengangkut motor diminati masyarakat dan dianggap sebagai nilai tambah layanan dan kreatif. Kecelakaan tidak sebanyak tahun lalu. Di Stasiun Gambir, penumpang yang ingin ke toilet tak perlu harus bayar karena Kadaop I Jakarta, Judarso Widiono menganggap toilet adalah bagian dari pelayanan penumpang kereta api, sehingga tak perlu bayar alias gratis.

Pelayanan luar biasa itu sama dengan yang diberikan Sugiyanto. Pemilik nama ini bukan Kepala Stasiun Solo Balapan, juga bukan Manager Restorasi wilayah Bandung. Sugiyanto adalah seorang karyawan OTC (On Train Service) alias tukang bersih-bersih di atas kereta eksekutif. Kerjanya menyapu, memungut, mengumpulkan sampah serta memberi air dan pengharum di toilet. Suatu ketika, di musim hujan, seorang bapak dengan anak serta 6 tas bawaan naik KA Argomuria. Di tengah jalan, AC gerbong 3 mati, penumpang susah bernafas dan atap KA eksekutif bocor (?). Anak si bapak muntah-muntah, sementara sang bapak sibuk membersihkan air hujan yang membasahi tempat duduk, wajah dan bawaan mereka.

Sudah 4 petugas kereta lewat, si bapak minta tolong dan hanya dijanjiin sebentar. Lewatlah Sugiyanto yang begitu melihat sang bapak kerepotan, dengan inisiatif meminta sang bapak membawa anaknya ke gerbong 4 yang sejuk dan tidak bocor, sementara Sugiyanto meraih bawaan sang bapak, membawanya ke gerbong 4. Merasa ada dewa penolong yang tiba-tiba datang, dan sang anak sudah tenang, sang bapak mengulurkan selembar Rp 10.000,-, namun Sugiyanto menolak. ”Terima kasih Bapak. Ini sudah menjadi bagian tugas saya.”

Sang bapak shock, terenyuh oleh kebaikan tulus Sugiyanto. Dan sang bapak baru sadar, tidak setiap pertolongan itu disertai lembaran uang! Sugiyanto, saya yakin tak pernah kenal Wise Words atau Golden Ways sang motivator. Tapi dia orang yang benar-benar menjalankan kata-kata bijak dan isi Kitab Allah: Perlakukan orang lain seperti engkau ingin orang lain memperlakukan terhadap dirimu.

Sepanjang rel kereta, selain Sugiyanto ada juga Pak Edy, petugas restorasi yang amat perhatian terhadap kepuasan sajian makanan bagi para penumpang. Pernah karena terlalu lama pesanan baru datang, penumpang marah, tapi Pak Edy mendatangi sembari minta maaf dan makanan itu gratis sebagai kesalahan anak buahnya.

Lalu ada juga pak Agus, kondektur yang tak pernah mau menerima uang sedikit pun dari penumpang. Suatu ketika ada penumpang nekat naik tanpa tiket. Alasan si penumpang, dia kecopetan dompet berisi seluruh uang, tiket dan juga tasnya. Padahal dia harus bertemu keluarganya besok pagi. Pak Edy mempersilakan duduk di ruang restorasi sampai di tempat tujuan. Dua tahun kemudian, sang kondektur ini ketemu lagi pada penumpang gelap itu yang ternyata seorang pengusaha sapi yang amat sukses yang sekarang menjalin hubungan besan dengan sang kondektur.

Di tengah kabar buruk dan negatif yang tak henti-hentinya menerpa tubuh perkeretaapian kita, kehadiran segelintir orang-orang seperti Sugiyanto, Edy dan Agus dan juga yang lainnya, adalah pahlawan pelayanan di atas kereta api. Sugiyanto, Edy dan Agus sungguh telah menjadi pribadi-pribadi yang membanggakan. Meskipun kejadian itu sudah dua-tiga tahun lalu, apalah artinya waktu. Kebaikan dan pelayanan yang tulus menimbulkan harum bau sampai kapanpun.

Terimakasih telah melayani dengan sungguh-sungguh dan tulus. Biar kecil, itulah kabar baiknya……..(Sumber : Majalah KA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar