11/26/2008

Mengapa Kecelakaan Selalu Menimpa KA Ekonomi



Mengapa Kecelakaan Selalu Menimpa KA Ekonomi

SM/Sigit Oediarto TERJUN KE SUNGAI:KA Bengawan yang mengalami musibah anjlok di jembatan kereta api Sungai Pager Km 339+4 di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, beberapa waktu lalu.(57)

PRIA yang sudah berumur itu terus memperhatikan bangkai kereta makan penumpang (KMP) bernomor seri 86502. Kereta itu merupakan bagian dari dua rangkaian KA Ekonomi Serayu yang terjun ke pesawahan setelah badan treknya longsor di Km 223+4/5, Kersamanah, Garut, Sabtu (21/4).
Sesekali, dia mengambil gambar dengan kamera digitalnya. Dia juga sempat mengobrol dengan rekannya yang tengah tekun juga mengecek sisa-sisa kerja sistem rem dan keandalan roda dari bangkai kereta itu. "Kenapa yang kerap mendapat musibah KA Ekonomi?" ungkapnya.
Sebelum KA Serayu, kecelakaan juga menimpa rangkaian KA Ekonomi Tawang Jaya yang terguling di Stasiun Surodadi, Tegal. Ndilalah, dua kejadian itu hampir mirip, sama-sama di Sabtu (7/4) dengan waktu peristiwa sekitar pukul 03.00.
Kejadian-kejadian tersebut menjadi sorotan banyak pihak. Apalagi sebelumnya, PT KA sudah mencanangkan sepanjang 2007 sebagai tahun keselamatan. BUMN transportasi itu bahkan ingin menekan tingkat kecelakaan hingga nihil.
Pernyataan itu setidaknya pernah disampaikan Dirut PT KA, Ronny Wahyudi usai pembukaan Rapat Kerja Semester I Tahun 2007 di kantor pusat Bandung, beberapa waktu lalu. Untuk keperluan tersebut, konsentrasi anggaran difokuskan kepada peningkatan kualitas kelaikan sarana dan prasarana.
"Sarana dan prasarana kita perbaiki dengan anggaran sebesar Rp 27 miliar lebih," katanya.
Di luar itu, upaya perbaikan lainnya sudah dilakukan PT KA di antaranya pengurangan kecepatan yang diberlakukan sampai pertengahan tahun 2007. Juga perbaikan kondisi teknis jalan rel dan jembatan, penggantian boogie, perangkat roda, dan peningkatan sistem rem serta sistem check dan recheck pada proses perjalanan KA.
"Di daerah-daerah operasi, kita juga membentuk tim keselamatan. Mereka bertugas memonitor keamanan dan gangguan operasional," katanya.
Terhadap armada yang sudah renta, dikandangkan. Menurut Direktur Operasi, Soedarmo Ramadhan, secara teknis kereta-kereta tersebut tidak memungkinkan lagi dioperasikan karena sudah uzur. Angka itu diperoleh dari 193 armada yang sudah masuk pengecekan Balai Yasa berkaitan audit sarana.
PT KA memiliki total armada 1.643 unit. Dari jumlah tersebut kereta yang berusia uzur terdiri atas 251 unit gerbong ekonomi, 33 unit kelas bisnis, dan 123 kereta pembangkit. KA yang paling tua beroperasi buatan tahun 1966, seperti gerbong KA Bengawan yang jatuh ke Sungai Pager, dalam Peristiwa Cilongok, Banyumas. Kereta-kereta itu harus segera diganti.
Dari total 519 loko, 185 unit di antaranya sudah berusia di atas 30 tahun. Sebagian di antaranya mangkrak di dipo-dipo. Kondisi itu pun harus diganti loko baru. Bila harus di midlife overhaul butuh biaya Rp 5 miliar/loko.
Kepala Humas PT KA, Noorhamidi, tidak menampik banyak armada kereta dan loko yang sudah berusia tua. Faktor keselamatan pun akhirnya menjadi sorotan. Sah-sah saja jika kemudian masyarakat menjadi khawatir atas kondisi tersebut.
Hanya saja, Noorhamidi menegaskan, PT KA memiliki pemeliharaan standar yang terukur. Dalam arti meski tua armada-armada tersebut dipastikan laik jalan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan. Untuk mengecek kesiapan lintasan, misalnya. Juru periksa jalan (JPJ) bertugas sebelum KA pertama dan KA terakhir melintas.
Menurut dia, tanpa ada laporan dari JPJ, kereta tidak diperkenakan melintasi jalur. Berita acara pengecekan sangat jelas dan tertulis.
Dalam setiap perjalanan, rangkaian KA juga mendapat pemeriksaan hampir di setiap stasiun pemberangkatan. (Dwi Setiady-46)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar